Jama'ah 'Umrah Perlu Jelajah Masjid-masjid Bersejarah di Makkah-Madinah | PT. Alharamain Mutiara Haji | 081234559922
Sejarah itu teramat penting dan sangat sayang untuk dilupakan. Kita sama-sama paham bahwa sebuah generasi yang sudah dijauhkan dari sejarah para pendahulunya akan sangat mudah untuk dilumpuhkan dan dihancurkan serta diubah jalan hidup mereka. Ya, sejarah adalah identitas sekaligus harga diri. Sejarah yang diabaikan tergerus klaim dusta akan menciptakan kegaduhan dan kericuhan. Keberadaan Masjid di lokasi bersejarah betul-betul dapat menjaga entitas sejarah, terjaga dari kehilangan dan kerancuan.
Lebih dari itu, tentu lebih bermanfaat jika monumen itu berupa masjid, daripada prasasti atau tugu semata. Dengan berupa masjid, kita bisa mendapatkan pahala memakmurkan masjid, pahala shalat di masjid, pahala mengajarkan ilmu di masjid dan lain sebagainya. Kitapun sudah paham bahwa tanah atau tempat terbaik dan yang paling dicintai Allah adalah masjid. Memperbanyak jumlah masjid berarti memperbanyak peluang kita dicintai Allah.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,
أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا.
“Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar.” [Shahih Muslim, no. 671]
Kalau memperbanyak jumlah masjid itu dilarang, dan dilarang pula menjadikan masjid sebagai tujuan wisata, lalu kita bolehnya wisata ke mana? Ke tempat hiburan dewasa dilarang, ke mall dilarang karena ada musik laghw dan banyak wanita tabarruj dan obral aurat, ke makam dituduh syirik dan bid'ah, ke pasar katanya banyak syaithan, ke pantai juga banyak yang buka aurat, ke kebun binatang katanya banyak ikhtilath, ke wahana wisata katanya membuat lupa Allah, terus yang diperbolehkan itu bepergian ke mana?
Setiap orang butuh hiburan, anak-anak apalagi. Bukankah sangat baik bila masjid jadi tujuan wisata, ada masjidnya jadi tetap ingat Allah, ada taman bermainnya untuk anak-anak, ada taman edukasinya, ada taman bersantainya dan untuk foto-foto, ada aula untuk acara walimah nikah, ada perpustakaan untuk ta'allum dan ta'lim, ada pertokoan untuk belanja oleh-oleh, ada kantin untuk makan, ada toilet untuk buang air, dan lain-lain.
Secara otomatis memperbanyak masjid berarti juga memviralkan masjid, membuat orang-orang tertarik datang ke masjid, bernilai dakwah. Orang ke masjid memang mau apa sih? Sekalipun tidak nonstop ibadah, tapi kan ujung-ujungnya, minimalnya, kalau waktu shalat tiba, langsung shalat kan? Atau sekurang-kurangnya mendengarkan majelis ilmu yang sedang berlangsung melalui pengeras suara. Secara tidak langsung, jika masjid-masjid diperbanyak, apalagi masjid-masjid bersejarah, umat akan menjadi qalbuhu mu'allaqun bi al-masjid.
Memperbanyak masjid bersejarah juga secara tidak langsung menjadi pusat perputaran ekonomi umat. Uang umat akan berputarnya di masjid, bukan di ruang karaoke, gelanggang fitnes, panti pijat mesum, warung remang-remang, dan semacamnya. Yang kaya bershadaqah di masjid, yang miskin mendapat shadaqah dari masjid, yang pas-pasan bisa mendapat pekerjaan dan penghasilan melalui masjid. Bagus kan?
Kita betul-betul bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebarnya masjid-masjid di muka bumi. Bukankah masjid adalah tempat yang paling dicintai Allah dari semua tempat di muka bumi? Andai masjid-masjid hanya berjumlah sedikit, niscaya tempat-tempat maksiat akan menjadi pemandangan tak terelakkan. Praktis, orang-orang bejat akan merajalela.
Lebih beruntung lagi kita dengan keberadaan masjid-masjid bersejarah yang telah dibangun para pendahulu kita di masa lampau. Kalau saja mereka lebih memilih mengabadikan sejarah dengan selain bangunan masjid pasti akan lebih berani orang-orang melupakan dan menghapus sejarah tersebut. Nyatanya, ada masjid saja, ada saja hegemoni kekuasaan yang tega meruntuhkan masjid tersebut.
Sebagian kaum menyebut jangan menapaktilasi dengan membangun masjid. Masjid itu hanya untuk Allah, bukan untuk penanda sejarah. Coba renungkan, kalau dibangun masjid tidak boleh, lalu dibangun tugu, monumen, atau hanya plang nama saja? Kan justru kurang berfaedah. Kalau masjid ataupun tugu juga tidak boleh, lalu apa yang boleh? Lalu apa hanya direkam dalam foto dan video saja? Kecerdasan Artificial Intelligence dalam bentuk video dan foto sangat manipulatif.
Bersama PT. Alharamain Mutiara Haji, Anda akan dibimbing untuk menjalani umrah sesuai sunnah berbasis tauhid dan wisata masjid-masjid Tanah Suci (sesuai request). PT. Alharamain Mutiara Haji melayani perjalanan Ibadah Umroh Reguler mulai 9 hari sampai 30 hari, Umroh Plus dan Haji Plus dengan paket yang bervariasi sesuai budget calon jama’ah baik perseorangan maupun kelompok / group. PT. Alharamain Mutiara Haji melayani berbagai paket tour untuk Asia, Eropa dan Timur Tengah. Berbagai kemudahan akan kami berikan kepada anda seperti jadwal keberangkatan yang fleksibel yang kami kemas dalam program “Free & Easy”, dan itinerary yang bisa diatur dengan harga yang pantas.


Komentar
Posting Komentar