Aturan Jum'atan di Masjid | Imam Muhammad bin 'Abdurrahman Ad-Dimasyqiyy Asy-Syafi'iyy | Kitab Rahmatul-Ummah fi Ikhtilafil-A`immah
فَصْلٌ: وَلاَ تَصِحُّ الْجُمُعَةُ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ إِلاَّ فِي أَبْنِيَةٍ يَسْتَوْطِنُهَا مَنْ تَنْعَقِدُ بِهِمُ الْجُمُعَةُ مِنْ بَلْدَةٍ أَوْ قَرْيَةٍ. وَقَالَ مَالِكٌ: الْقُرَى الَّتِي تَجِبُ الْجُمُعَةُ فِيهَا مَا إِذَا كَانَتْ بُيُوتُهَا مُتَّصِلَةً وَفِيهَا مَسْجِدٌ وَسُوقٌ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: لاَ تَصِحُّ الْجُمُعَةُ إِلاَّ فِي مِصْرٍ جَامِعٍ لَهُمْ سُلْطَانٌ، فَإِنْ خَرَجَ أَهْلُ بَلَدٍ إِلَى خَارِجِ الْمِصْرِ فَأَقَامُوا الْجُمُعَةَ لَمْ تَصِحَّ عِنْدَ الثَّلاَثَةِ، وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: تَصِحُّ إِذَا كَانَ قَرِيباً مِنَ الْبَلَدِ كَمُصَلَّى الْعِيدِ.
Pasal: Dan tidak sah Jumat menurut Imam Asy-Syafi’iyy kecuali di bangunanbangunan yang dihuni oleh orang-orang yang melangsungkan Jumat, baik dari kota besar maupun desa. Imam Malik berkata: Desadesa yang wajib Jumat di dalamnya adalah jika rumah-rumahnya bersambung dan di dalamnya terdapat masjid dan pasar. Imam Abu Hanifah berkata: Tidak sah Jumat kecuali di kota besar yang memiliki kekuasaan (pemerintah). Jika penduduk suatu kota keluar dari kota besar lalu mendirikan Jumat, maka tidak sah menurut tiga imam (Imam Malik, Imam Asy-Syafi’iyy Imam Ahmad). Imam Abu Hanifah berkata: Sah jika dekat dengan kota, seperti tempat shalat Id.
فَصْلٌ:لاَ تُقَامُ فِي بَلَدٍ وَإِنْ عَظُمَ أَكْثَرُ مِنْ جُمُعَةٍ وَاحِدَةٍ عَلَى أَصْلِ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ. قَالَ مَالِكٌ: إِذَا كَانَ فِي الْبَلَدِ جَوَامِعُ أُقِيمَتْ فِي الأَقْدَمِ مِنْهَا. وَلَيْسَ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ فِي ذَلِكَ شَيْءٌ، وَلَكِنْ قَالَ أَبُو يُوسُفَ: إِذَا كَانَ الْبَلَدُ جَانِبَيْنِ جَازَ فِيهِ جُمُعَتَانِ، وَإِنْ كَانَ جَانِباً وَاحِداً، قَالَ الطَّحَاوِيُّ الصَّحِيحُ مِنْ مَذْهَبِنَا أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ إِقَامَةُ الْجُمُعَةِ فِي أَكْثَرَ مِنْ مَوْضِعٍ وَاحِدٍ فِي الْمِصْرِ إِلاَّ أَنْ يَشُقَّ الاِجْتِمَاعُ لِكِبَرِ الْمِصْرِ فَيَجُوزُ فِي الْمَوْضِعَيْنِ، وَإِنْ دَعَتِ الْحَاجَةُ إِلَى أَكْثَرَ جَازَ. وَقَالَ أَحْمَدُ: إِنْ عَظُمَ الْبَلَدُ وَكَثُرَ أَهْلُهُ كَبَغْدَادَ جَازَ فِيهِ جُمُعَتَانِ. وَإِنْ لَمْ يَكُنْ بِهِمْ حَاجَةٌ إِلَى أَكْثَرَ مِنْ جُمُعَةٍ لَمْ يَجُزْ، وَعَلَى هَذَا حَمَلَ ابْنُ سُرَيْجٍ إِمَامُ الشَّافِعِيَّةِ أَمْرَ بَغْدَادَ فِي جَوَامِعِهَا، وَقِيلَ: إِنَّ بَغْدَادَ كَانَتْ فِي الأَصْلِ قُرَى مُتَفَرِّقَةً وَفِي كُلِّ قَرْيَةٍ جُمُعَةٌ ثُمَّ اتَّصَلَتِ الْعِمَارَةُ بَيْنَهَا فَبَقِيَتِ الْجُمَعُ عَلَى حَالِهَا فَالرَّاجِحُ أَخْذاً مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ الْبَلَدَ إِذَا كَبُرَ وَعَسُرَ اجْتِمَاعُ أَهْلِهِ فِي مَوْضِعٍ وَاحِدٍ جَازَ إِقَامَةُ جُمُعَةٍ أُخْرَى، بَلْ يَجُوزُ التَّعَدُّدُ بِحَسَبِ الْحَاجَةِ. وَقَالَ دَاوُدُ الْجُمُعَةُ كَسَائِرِ الصَّلَوَاتِ يَجُوزُ لأَهْلِ الْبَلَدِ أَنْ يُصَلُّوهَا فِي مَسَاجِدِهِمْ.
Pasal: Tidak boleh didirikan lebih dari satu shalat Jumat di satu kota, meskipun besar, menurut prinsip madzhab Asy-Syafi’iyy dan ini juga Madzhab Malikiyyah. Imam Malik berkata: Jika di kota itu ada banyak masjid jami’, maka Jumat didirikan di masjid yang paling tua. Imam Abu Hanifah tidak memiliki ketentuan khusus tentang ini, tetapi Imam Abu Yusuf berkata: Jika kota itu memiliki dua sisi, maka boleh ada dua Jumat di dalamnya. Dan jika hanya satu sisi, Imam Ath-Thahawiyy berkata: Yang benar dari madzhab kami adalah tidak boleh mendirikan Jumat di lebih dari satu tempat di kota, kecuali jika sulit berkumpul karena besarnya kota, maka boleh di dua tempat, dan jika kebutuhan menuntut lebih, maka boleh. Imam Ahmad berkata: Jika kota itu besar dan penduduknya banyak seperti Baghdad, maka boleh ada dua Jumat di dalamnya. Dan jika mereka tidak membutuhkan lebih dari satu Jumat, maka tidak boleh. Berdasarkan ini, Imam Ibnu Suraij, salah seorang imam Syafi’iyyah, memahami kasus Baghdad dengan banyak masjid jami’nya. Dikatakan: Sesungguhnya Baghdad pada asalnya adalah desadesa yang terpisah, dan di setiap desa ada Jumat, kemudian pembangunan menyambungkan antara mereka, sehingga Jumat tetap pada keadaannya. Maka yang lebih kuat, diambil dari madzhab Asy-Syafi’iyy adalah bahwa jika suatu kota besar dan sulit bagi penduduknya untuk berkumpul di satu tempat, maka boleh mendirikan Jumat lain, bahkan boleh berbilang (Jumat) sesuai kebutuhan. Imam Dawud berkata: Jumat sama seperti shalat lainnya, penduduk kota boleh melaksanakannya di masjid-masjid mereka.


Komentar
Posting Komentar