Tata Kelola Ketertiban Makmum Shalat Berjama'ah | Imam Muhammad bin 'Abdurrahman Ad-Dimasyqiyy Asy-Syafi'iyy | Kitab Rahmatul-Ummah fi Ikhtilafil-A`immah

082140888638 Support Masjid Influencer Brilly El-Rasheed


Imam Muhammad bin 'Abdurrahman Ad-Dimasyqiyy Asy-Syafi'iyy menjelaskan dalam Kitab Rahmatul-Ummah fi Ikhtilafil-A`immah,

فَصْلٌ: وَمَنْ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَقَدْ أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ لَمْ تُصَلَّ تَحِيَّةُ الْمَسْجِدِ وَلاَ غَيْرُهَا مِنَ السُّنَنِ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ. وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ: إِذَا أَمِنَ فَوَاتَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِنَ الصُّبْحِ اشْتَغَلَ بِرَكْعَتَيِ الْفَجْرِ خَارِجَ الْمَسْجِدِ.

Pasal: Dan siapa saja yang masuk masjid dan shalat telah diiqamahkan, maka shalat tahiyatul masjid dan sunnah-sunnah lainnya tidak dikerjakan menurut Imam Asy-Syafi’iyy dan Imam Ahmad. Imam Abu Hanifah  dan Imam Malik berkata: Jika ia merasa aman tidak kehilangan rakaat kedua Shubuh, ia bisa mengerjakan dua rakaat fajar di luar masjid.

فَصْلٌ: وَمَنْ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَوَجَدَ إِمَامَهُ قَدْ فَرَغَ مِنَ الصَّلاَةِ، فَإِنْ كَانَ الْمَسْجِدُ فِي غَيْرِ مَمَرِّ النَّاسِ كُرِهَ لَهُ أَنْ يَسْتَأْنِفَ فِيهِ جَمَاعَةً عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ. وَقَالَ أَحْمَدُ: لاَ يُكْرَهُ إِقَامَةُ الْجَمَاعَةِ بَعْدَ الْجَمَاعَةِ بِحَالٍ وَمَنْ صَلَّى مُنْفَرِداً ثُمَّ أَدْرَكَ جَمَاعَةً يُصَلُّونَ اسْتُحِبَّ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَهَا مَعَهُمْ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ، وَبِهَذَا قَالَ مَالِكٌ إِلاَّ فِي الْمَغْرِبِ، فَإِنْ صَلَّى جَمَاعَةً ثُمَّ أَدْرَكَ جَمَاعَةً أُخْرَى فَهَلْ يُعِيدُ الصَّلاَةَ مَعَهُمُ الرَّاجِحُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ: نَعَمْ، وَهُوَ قَوْلُ أَحْمَدَ إِلاَّ فِي الصُّبْحِ وَالْعَصْرِ. وَقَالَ مَالِكٌ: مَنْ صَلَّى فِي جَمَاعَةٍ لاَ يُعِيدُ، وَمَنْ صَلَّى مُنْفَرِداً أَعَادَ فِي الْجَمَاعَةِ إِلاَّ الْمَغْرِبَ. وَقَالَ الأَوْزَاعِيُّ إِلاَّ الصُّبْحَ وَالْمَغْرِبَ. وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: لاَ يُعِيدُ إِلاَّ الظُّهْرَ وَالْعِشَاءَ. وَقَالَ الْحَسَنُ: يُعِيدُ إِلاَّ الصُّبْحَ وَالْعَصْرَ، وَإِذَا أَعَادَ فَفَرْضُهُ الأُولَى عَلَى الرَّاجِحِ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَالثَّانِيَةُ تَطَوُّعٌ، وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ وَأَحْمَدَ، وَعَنِ الأَوْزَاعِيِّ وَالشَّعْبِيِّ أَنَّهُمَا جَمِيعاً فَرْضُهُ.

Pasal: Dan siapa saja yang masuk masjid lalu mendapati imamnya telah selesai shalat, maka jika masjid tersebut bukan di jalan umum, makruh baginya untuk memulai jamaah lagi di dalamnya menurut Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Asy-Syafi’iyy. Imam Ahmad berkata: Tidak makruh mendirikan jamaah setelah jamaah dalam keadaan apapun. Dan siapa saja yang shalat sendirian lalu mendapati jamaah sedang shalat, dianjurkan baginya untuk shalat bersama mereka menurut Imam Asy-Syafi’iyy. Ini juga dikatakan oleh Imam Malik kecuali pada shalat Maghrib. Jika ia telah shalat berjamaah lalu mendapati jamaah lain, apakah ia mengulang shalat bersama mereka? Yang lebih kuat dari madzhab Asy-Syafi’iyy: Ya, dan ini adalah pendapat Imam Ahmad kecuali pada shalat Shubuh dan ‘Ashar. Imam Malik berkata: Siapa saja yang telah shalat berjamaah tidak mengulang, dan siapa saja yang shalat sendirian mengulang dalam jamaah kecuali Maghrib. Imam Al-Auza’iyy berkata: Kecuali Shubuh dan Maghrib. Imam Abu Hanifah  berkata: Tidak mengulang kecuali Zhuhur dan Isya. Imam Al-Hasan berkata: Mengulang kecuali Shubuh dan ‘Ashar. Dan jika ia mengulang, maka fardhunya adalah yang pertama menurut pendapat yang kuat dari madzhab Asy-Syafi’iyy dan yang kedua adalah sunnah. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah  dan Imam Ahmad. Dari Imam Al-Auza’iyy dan Imam Asy-Sya’biyy bahwa keduanya adalah fardhunya.

082140888638 Support Masjid Influencer Brilly El-Rasheed



Komentar