Islam merupakan agama yang menghargai jamuan makan sebagai pengamalan kedermawanan. Apa saja bentuk berbagi tetap diapresiasi Islam. Islam menyebut hidangan untuk situasi-situasi kebahagiaan dengan istilah walimah. Walimah diadakan sebagai pintu masuk dakwah secara lembut. Tatkala para tamu sudah kenyang, amar ma’ruf nahi munkar menjadi mulus.
Walimah aqad secara eksplisit disunnahkan Rasulullah. Walimah arus dimanfaatkan oleh Rasulullah untuk menginjeksikan nilai-nilai positif melalui sesi khuthbah nikah. Suguhan bisa sebelum dan sesudah khuthbah nikah. Tidak ada aturan ketat. Walimah aqiqah, walimah khitan, walimah safar, walimah wakirah dan lain-lain tidak disebut secara spesifik oleh Nabi namun tidak auto-bid’ah.
Imam Al-Baghawiyy rahimahullah berkata, “Walimah tidaklah wajib, tetapi sunnah. Dan jika seseorang mendapatkan nikmat dari Allah, maka dianjurkan baginya untuk menampakkan rasa syukurnya. Dan yang seperti walimah adalah aqiqah, undangan khitanan, dan ketika pulang dari bepergian jauh. Semuanya itu sunnah dan dianjurkan sebagai rasa syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala atas kenikmatan yang ia dapatkan. Dan acara yang paling kuat anjurannya adalah walimah pernikahan, ‘i’dzar (khitanan) dan khurs (kelahiran bayi).” [Syarh As-Sunnah 9/137-138]
Kita bedah satu-persatu dalil ringkas masing-masing acara makan-makan. Makan-makan yang ‘liar’ alias tidak dibingkai dalam suasana religius (Islami) sudah barang tentu akan berubah duniawi seutuhnya bahkan bisa bertabur maksiat. Betapa Islam memfungsikan makan-makan yang notabene duniawi agar menjadi wasilah mendekat kepada Allah. Dengan adanya format-format kegiatan, kita bisa menyalurkan jiwa sosial kita. Tidak ada beda hukum kita bershadaqah dengan door to door dengan kita bershadaqah dengan open door atau open house, bahkan masing-masing ada afdhaliyyahnya.
Makan-makan Pasca Pernikahan
Dari Buraidah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda pada pernikahan ‘Aliyy dan Fathimah radhiyallahu anhuma, “Sesungguhnya pada acara pernikahan ini harus ada walimahnya.” [Shahih Musnad Ahmad no. 21957; Fath Al-Bari 9/230. Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 2419]
Makan-makan Pasca Safar
Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma berkata, “Bahwa ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tiba di Madinah, beliau menyembelih seekor unta atau sapi.” [Shahih Al-Bukhariyy no. 2859; Sunan Abu Dawud no. 3255]
“Nabi shallallahu alaihi wasallam membeli seekor unta dariku seharga 2 Uqiyah ditambah 1 Dirham atau 2 Dirham. Ketika beliau tiba di Shirar (nama suatu tempat, pen), beliau memerintahkan untuk menyembelih seekor sapi. Kemudian mereka (kaum muslimin) ikut memakan dari sapi tersebut.” [Shahih Al-Bukhariyy no. 2859; Shahih Muslim no. 3000]
Makan-makan Pasca Kelahiran
Dari Salman bin ‘Amir Adh-Dhabbiyy radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada (setiap) anak laki-laki (yang lahir) harus diaqiqahi, maka tumpahkan darah (sembelihlah aqiqah) untuknya (untuk dihidangkan kepada siapa saja) dan hilangkan gangguan darinya.” [Shahih Al-Bukhariyy no. 5472]
Mu’awiyah bin Qurrah (seorang ulama tabiin) rahimahullah berkata, “Ketika anakku, Iyas lahir, aku mengundang beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam. Aku menjamu mereka. Aku berkata, “Sesungguhnya kalian telah berdoa, maka semoga Allah memberkati kalian dalam doa kalian. Dan jika aku berdo’a dengan suatu do’a, maka silakan kalian aminkan! Maka aku berdoa untuk anakku dengan doa yang banyak untuk kebaikan urusan agama dan akalnya.” [Al-Adab Al-Mufrad li Al-Bukhariyy no. 1255 (429). Dan isnadnya dishahihkan Al-Albaniyy dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 533]
Makan-makan Pasca Khitanan
Musa bin Thalhah bin Ubaidillah rahimahullah berkata, “Adalah ‘Aliyy bin Abu Thalib, Az-Zubair bin Al-Awwam, Thalhah bin ‘Ubaidillah dan Sa’d bin Abi Waqqash adalah i’dzar (walimah khitan) dalam 1 tahun.” Maksudnya adalah umur mereka berdekatan, dikhitan dalam tahun yang sama.” [Tarikh Damsyiq 20/296. Tahdzib At-Tahdzib 3/420]
Imam Ibnu Taimiyah Al-Qadiriyy Al-Hanbaliyy rahimahullah berkata, “Adapun walimah khitan, maka ia boleh diadakan. Barangsiapa yang mau, maka silakan mengadakan dan barangsiapa yang tidak mau, maka tidak usah mengadakan. Demikian pula walimah kelahiran (khurs), kecuali jika ia meng-aqiqahi anak, maka aqiqah adalah sunnah.” [Majmu’ Al-Fatawi: 32/206]
Makan-makan Pasca Kelulusan
Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, Pertanyaan: “Wahai Syaikh yang mulia! Ada pertanyaan saya seputar kelulusan murid-murid. Jika seorang anak telah lulus dalam mata pelajarannya, maka apakah diperbolehkan bagi saya menyembelih sembelihan dalam rangka bergembira atas lulusnya anak dan bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla?” Jawaban: “Tidak apa-apa jika anak-anak atau salah seorang mereka telah lulus untuk membuat walimah dengan mengundang orang-orang yang dicintai dan teman-teman si anak dalam rangka bergembira atas nikmat Allah Tabaraka wa Ta’ala dan dalam rangka memberi dorongan semangat kepada si anak.” [Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh: 161/10]
Makan-makan Pasca Pemakaman
Dari ‘Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari seorang sahabat Anshar yang berkata, “Rasulullah pergi keluar bersama kami mengantarkan jenazah. Setelah selesai, seorang lelaki utusan wanita (istri si mayit) menemui Nabi. Nabi mendatangi. Dihidangkan makanan. Nabi meletakkan tangannya dan demikian pula para sahabat (ke sajian). Mereka makan dan Rasulullah baru saja memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya, kemudian beliau berkata, "Saya dapati daging kambing (yang dihidangkan ini sepertinya) diambil tanpa seizin pemiliknya." Kemudian wanita tersebut mengirim utusan, ia berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya telah mengirim utusan ke Baqi' untuk membelikan kambing, lalu aku tidak mendapatinya. Lalu aku mengirim utusan kepada tetanggaku yang telah membeli kambing agar ia mengirimnya kepadaku dan diganti dengan harganya, namun aku tidak mendapatkannya. Lalu aku mengirim utusan kepada isterinya, kemudian wanita tersebut mengirimkan kambing tersebut kepadaku. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "(Kalau begitu) Berilah juga makanan ini kepada para tawanan perang!" [Shahih: Sunan Abu Dawud no. 2894 dan Imam Ahmad. Misykah Al-Mashabih no. 5942]
Makan-makan pasca pemakaman bukan berarti berbahagia atas kematian karena benci kepada mayit. Bukan. Tukang gali kubur, pengantar, pemandi, pengkafan, penshalat, pengubur dan lain-lain, semuanya membutuhkan waktu yang tidak sebentar, sangat mungkin lapar dan lesu. Keluarga mayit menghidangkan makanan untuk mereka bahkan untuk orang lain dengan niat berterima kasih atau balas jasa kepada mereka semua sekaligus permohonan maaf atas kesalahan mayit yang mungkin masih mengganjal.
Makan-makan Pasca Pembangunan Rumah
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku melihat dalam mimpiku, seolah-olah Jibril di sisi kepalaku dan Mikail di sisi kakiku. Salah satunya berkata kepada temannya, “Buatlah perumpamaan untuk orang ini (yaitu Nabi shallallahu alaihi wasallam, pen)!” Maka salah satunya berkata, “Dengarkanlah dengan pendengaran telingamu dan pikirkan dengan pikiran qalbumu! Perumpamaanmu dan umatmu hanyalah diumpamakan seperti raja yang mengambil suatu daerah, kemudian ia membangun suatu rumah di daerah itu, kemudian ia membuat sebuah hidangan makanan di rumah itu, kemudian ia mengundang manusia untuk menghadiri jamuan makannya. Di antara mereka ada yang datang dan di antara mereka ada yang tidak hadir. Maka Allah adalah raja itu. Daerah itu adalah Islam. Rumah itu adalah Surga. Dan Engkau, wahai Muhammad, adalah utusan (yang mengundang manusia, pen). Barangsiapa yang mendatangi undanganmu, maka ia masuk Islam. Barangsiapa yang masuk Islam, maka ia akan masuk Surga. Barangsiapa yang masuk surga, maka ia akan memakan hidangan di dalamnya.” [Sunan At-Tirmidziyy no. 2787. Al-Albaniyy menshahihkan karena syawahid dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 3595]
Syaikh ‘Abdul-Muhsin Al-Abbad rahimahullah pernah ditanya, Pertanyaan: “Apa hukum orang yang menyembelih (ternak) dan menyebut nama Allah padanya. Akan tetapi tidak untuk Allah. Ia menyembelihnya dalam rangka membangun rumah baru atau selain itu?”
Jawaban: “Jika seseorang menyembelih dalam rangka membangun rumah baru, yaitu yang dinamakan ‘wakirah’, maka ini tidak apa-apa. Maka ia tidak menyembelihnya sebagai kurban atau sebagai sedekah, tetapi ia menyembelihnya karena acara ini. Ini tidak bisa dikatakan: Menyembelih untuk selain Allah, karena segala sesuatu itu hanya untuk Allah. Allah berfirman: “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162). Tetapi yang mendorongnya untuk menyembelih adalah ia membangun rumah dan ingin menjamu manusia atau menunjukkan manusia ke rumahnya.” [Syarh Sunan Abu Dawud 15/219]
Mengadakan acara makan-makan tidak berarti menambah-nambah hari raya agama Islam. Jika ekspresi-ekspresi syukur dalam bentuk berbagi santapan dilarang maka bagaimana lagi umat Islam mempraktekkan syukur? Syukur sebatas menyadari nikmat Allah? Tentu tidak. Berbagi suguhan termasuk syukur kepada Allah. Wa ahsin kama ahsanAllah ilaika. Makan-makan pasca pendirian masjid juga bukan bid'ah!
Makan-makan Pasca Pembangunan Masjid
Imam bin Katsir Asy-Syafi’iyy Al-Asy’ariyy menukil, Imam Ath-Thabraniyy mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Hasan bin Qutaibah Al-Asqalani, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ayyub bin Suwaid, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Abu Ablah, dari Abu Az-Zahiriyyah, dari Rafi' bin Umair yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah menceritakan kisah berikut, Allah berfirman kepada Dawud, "Buatkanlah sebuah rumah (peribadatan) untuk-Ku di bumi. Maka Dawud membangun sebuah rumah ibadah untuk dirinya sebelum membangun bait (rumah ibadah) yang di perintahkan agar ia membangunnya. Maka Allah menurunkan wahyu kepadanya, "Hai Dawud, engkau telah bangun rumah peribadatan untukmu sebelum engkau bangun rumah peribadatan untuk-Ku." Dawud menjawab, "Wahai Tuhanku, memang ini menurut naluriku sebagai seorang raja yang egois." Kemudian Dawud membangun masjid yang dimaksud, dan setelah temboknya berdiri ambruk —hal ini terjadi tiga kali— akhirnya Dawud mengadu kepada Allah. Maka Allah berfirman, "Hai Dawud, sesunguhnya kamu tidak layak untuk membangun rumah (peribadatan) untuk-Ku." Dawud bertanya', "Mengapa, wahai Tuhanku?" Allah menjawab, Karena banyak darah (kaum kafir) yang dialirkan oleh kedua tanganmu." Dawud berkata, "Wahai Tuhanku, bukankah hal itu terjadi demi kecintaan dan kesukaanku kepada Engkau?" Allah berfirman, "Bukan begitu, tetapi mereka juga adalah hamba-hamba-Ku, Aku kasihan kepada mereka." Maka hal tersebut memberatkan Dawud, lalu Allah berfirman melalui wahyu-Nya, "Janganlah engkau bersedih, karena sesungguhnya Aku telah menetapkan pembangunannya di tangan anak laki-lakimu, yaitu Sulaiman." Setelah Dawud meninggal dunia, putranya (Sulaiman) membangun masjid tersebut. Setelah pembangunan masjid selesai, Sulaiman menghadiahkan qurban dan menyembelih banyak hewan sembelihan, lalu ia mengumpulkan semua kaum Bani Israil. Maka Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Sulaiman, "Aku telah melihat kegembiraanmu dengan selesainya perbangunan bait-Ku, maka mintalah kepada-Ku, Aku akan memberimu." Sulaiman berkata, "Aku memohon kepada-Mu tiga perkara, yaitu hukum yang sesuai dengan hukum-Mu, kerajaan yang tidak layak dimiliki oleh seorang pun sesudahku; dan barang siapa yang datang ke masjid ini dengan niat tiada lain kecuali melakukan shalat di dalamnya, maka bersihlah ia dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya." Maka Rasulullah bersabda, Adapun yang dua perkara Sulaiman telah diberinya; dan aku berharap semoga yang ketiga itu diberikan kepadaku. [Tafsir bin Katsir]
Teks Arab hadits ini dapat disimak di https://www.asmaulhusna.or.id/2026/08/dalil-tasyakkuran-pembangunan-masjid.html


Komentar
Posting Komentar